Langsung ke konten utama

Macam-macam Model Pembelajaran

Macam-macam Model Pembelajaran
1.     Ekspositori
      Pembelajaran ekspositori merupakan pembelajaran yang menekankan proses penyampaian materi secara verbal dari guru kepada peserta didik dengan tujuan agara peserta didik dapat memahami materi pembelajaran dengan optimal.
      Ada beberapa variasi jenis metode dalam pembelajaran ekspositori, variasi jenis metode adalah sebagai berikut.
a.      Ceramah
      Metode ceramah merupakan pemaparan secara lisan mengenai bahan pelajaran kepada sekelompok siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam kelompok bejar yang relatif banyak.

Sintaks atau cara kerja:
No
Tahap
Penjelasan
1
Persiapan
a)     Guru merumuskan tujuan yang ingin dicapai
b)  Guru menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan
c)     Guru mempersiapkan alat bantu
2
Pelaksanaan
a)   Guru memastikan bahwa siswa memahami tujuan yang akan dicapai
b)    Guru menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan (apersepsi)
3
Penyajian
Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan cara bertutur.
4
Penutupan
Guru menutup materi pelajaran. Guru menciptakan kegiatan yang memungkinkan siswa untuk mengingat materi pelajaran seperti dengan cara membimbing siswa untuk menyampaikan materi apa saja yang sudah disampaikan, merangsang siswa supaya dapat memberikan tanggapan mengenai pelajaran, dan melakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa.


b.     Demonstrasi
      Demonstrasi merupakan cara penyajian bahan pelajaran dengan diperagakan dan ditunjukkan kepada siswa mengenai suatu proses, situasi, atau benda yang sedang dipelajari.

Sintaks atau cara kerja:
No
Tahap
Penjelasan
1
Persiapan
a)  Guru merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa
b) Guru mempersiapkan secara garis besar langkah-langkah demonstrasi yang dilakukan
c)  Guru melakukan uji coba demonstrasi
2
Pembukaan
a) Guru mengatur tempat duduk yang memungkin seluruh siswa dapat melihat jelas apa yang sedang didemonstrasikan
b)  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
c) Guru menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa
3
Pelaksanaan
a)  Guru melakukan demonstrasi dengan kegiatan yang dapat merangsang siswa untuk berpikir
b)  Guru memberi kesempatan siswa untuk memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang terjadi pada saat demonstrasi
4
Penutup
Guru mengakhiri demonstrasi dengan memberikan tugas yang berkaitan dengan demonstrasi yang telah dilakukan dan proses pencapaian tujuan pembelajaran

c.      Drill
      Metode drill merupakan cara mengajar di mana siswa melakukan kegiatan latihan dengan tujuan supaya siswa memiliki ketangkasan dan keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang sudah dipelajari. Ciri khas pada metode drill ini adalah adanya kegiatan pengulangan berkali-kali mengenai hal yang sama.
Sintaks atau cara kerja:
No
Tahap
Penjelasan
1
Persiapan
a)     Guru merumuskan tujuan yang akan dicapai
b)     Guru menentukan keterampilan secara spesifik
c)     Guru menentukan rangkaian langkah yang harus dikerjakan untuk menghindari kesalahan
d)     Guru melakukan pradrill sebelum menerapkan metode drill
2
Pembukaan
a)    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b) Guru menyampaikan bentuk-bentuk latihan yang akan digunakan
3
Pelaksanaan
Memulai latihan dari mulai yang sederhana hingga yang rumit. Pastikan semua siswa tertarik untuk berpartisipasi
4
Penutup
Guru menutup pembelajaran dan memberikan motivasi kepada siswa


2.     Discovery
      Discovery learning merupakan proses pembelajaran yang berfokus pada penemuan masalah (sumber pembelajaran) yang berasal dari pengalaman nyata siswa. Tujuan discovery learning adalah suatu upaya untuk membangun pengetahuan secara induktif dari pengalaman siswa dan pengalaman merupakan sumber materi yang dapat dieksplorasi dalam proses pembelajaran.
      Ada beberapa variasi jenis metode dalam pembelajaran discovery, variasi jenis metode adalah sebagai berikut.

a.      Problem Based Learning
      PBL merupakan metode pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sintaks atau cara kerjanya adalah:
No
Langkah
Penjelasan
1
Merumuskan masalah
Guru membimbing peserta didik untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan pada pembelajaran
2
Menganalisis masalah
Siswa meninjau masalah dari beberapa sudut pandang
3
Merumuskan hipotesis
Siswa merumuskan berbagai pemecahan masalah
4
Mengumpulkan data
Siswa mencari dan mengumpulkan berbagai informasi untuk pemecahan masalah
5
Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah
Siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasi pengujian hipotesis dan kesimpulan

b.     Project Based Learning
      PjBL adalah metode pembelajaran yang desainnya berdasarkan pada sebuah tugas proyek yang harus dikerjakan oleh siswa melalui kegiatan pembelajaran. Sintaks atau cara kerjanya adalah:
1)     Penentuan pertanyaan mendasar
Guru memberikan pertanyaan esensial yang dapat memberikan penugasan peserta didik
2)     Mendesain perencanaan proyek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Perencanaan berisi mengenai aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, mengetahui alat dan bahan yang dapat membantu dalam penyelesaian proyek
3)     Menyusun jadwal
Guru dan siswa secara bersama menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
4)     Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
Guru memonitor terhadap segala aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek
5)     Menguji hasil
Guru melakukan penilaian untuk membantu dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, member umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai
6)     Evaluasi
Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek baik secara individu maupun kelompok

c.      Discovery Based Learning
Discovery Learning merupakan pembelajaran yang mana penemuan menjadi dasar atau intinya, konstruktivis dan teori bagaimana belajar. Model pembelajaran yang diberikan kepada siswa memiliki sintaks/skenario pembelajaran, ada beberapa masalah nyata yang harus siswa pecahkan secara mandiri.
Sintaks atau cara kerjanya:
No
Tahapan
Penjelasan
1
Persiapan
a)     Menentukan tujuan pembelajaran.
b)   Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
c)     Memilih materi pelajaran.
d) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
e)     Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
f)    Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
g)   Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
2
Stimulation atau pemberian rangsangan
     Siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan tanda tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiriGuru dapat memulai kegiatan poses belajar mengajar dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan kegiatan belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
3
Problem Statement atau identifikasi masalah
Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasi masalah yang relevan dengan bahan disajikan untuk stimulus. Dari masalah tersebut, dirumuskan jawaban sebagai dugaan sementara atau (hipotesis)
4
Data collection atau pengumpulan data
Siswa mengumpulkan informasi yang relevan untuk membuktikan kebenaran hipotesis atau menemukan suatu konsep. Data dapat diperoleh melalui membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya
5
Data processing atau pengolahan data
Siswa mengolah data yang telah dikumpulkan. Pengolahan data dalam rangka mengarahkan kepada konsep yang akan dicapai
6
Verification atau memverifikasi
Siswa melakukan pemeriksaan kebenaran hipotesis terkait dengan hasil pengolahan data processing
7
Generalization atau penarikan kesimpulan
Guru mengajak siswa untuk melakukan generalisasi konsep yang sudah dibuktikan untuk kondisi umum

3.     Cooperative Learning
      Secara historis, pembelajaran kooperatif sudah berkembang di sekitar Perang Dunia II. Sudah banyak ahli yang menyumbangkan pemikirannya bagi pembelajaran kooperatif dalam kurun waktu 1930-an sampai 1940-an, antara lain adalah sejumlah filosof dan ahli psikologi seperti John Dewey, Kurt Lewin, dan Morton Deutsh.
      Pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang melibatkan sejumlah kelompok kecil siswa yang bekerja dan belajar bersama dengan saling membantu secara interaktif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
      Menurut Rusman, setidaknya ada empat karakter yang menjadi ciri khas metode pembelajaran kooperatif, yaitu :
1)     Pembelajaran secara kelompok (team work)
2)      Berdasar pada manajemen kooperatif memiliki tiga fungsi, yaitu: a) fungsi manajemen sebagai perencanaan b) fungsi manajemen sebagai organisasi, c) fungsi manajemen sebagai kontrol.
3)     Kemauan bekerja sama dalam konteks pembelajaran kooperatif
4)     Keterampilan bekerja sama.
      Ada beberapa variasi jenis metode dalam pembelajaran kooperatif, variasi jenis metode adalah sebagai berikut.
a.      Student Team Achievement Division (STAD)
      Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Univesitas John Hopkin. STAD ( Student Team Achievement Division) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Metode ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Teknik dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
      STAD mendorong siswa untuk terbiasa bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan suatu masalah, tetapi pada akhirnya mereka bertanggung jawab secara mandiri. Seorang guru/ fasilitator harus mengatur kelas sedemikian rupa sehingga terdapat ruang yang cukup untuk beberapa kelompok pembelajaran.
Sintaks atau cara kerja:

No
Langkah
Penjelasan
1
Penyampaian tujuan dan memotivasi siswa
Menyampaikan tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
2
Menyajikan atau menyampaikan informas
Menyajikan informasi kepada siswa dengan mendemonstrasikan atau melalui bahan bacaan
3
Pembagian kelompok
Membagi siswa ke dalam beberapa kelompok heterogen, di mana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa dengan memprioritaskan keragaman dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, rasa atau etnik.
4
Presentasi guru
Guru melakukan presentasi, menyajikan dan menyampaikan pelajaran
5
Kegiatan belajar dalam kelompok
Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan berkontribusi. Selama kelompok bekerja, guru melakuakn pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan.
6
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis/soal. Guru melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada dari sendari dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.
7
Memberikan penghargaan
Guru memberikan penghargaan atas hasil kerja kelompok dan hasil kerja individu.

b.     Jigsaw
      Metode Jigsaw adalah sebuah metode belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti diungkapkan oleh Lie (1999), bahwa “pembelajaran kooperatif metode Jigsaw ini merupakan metode belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri”.
      Pada metode ini, siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasi kepada kelompok lain.

Sintaks atau cara kerja:
1)     Seluruh siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang beranggota 5-6 siswa
2)     Tiap siswa dalam kelompok diberi bagian materi yang berbeda
3)     Tiap siswa dalam kelompok diberi bagian materi yang tugaskan
4)     Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab mereka
5)     Setelah selesai melakukan diskusi sebagai kelompok ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama
6)     Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7)     Guru berkeliling ke masing-masing kelompok untuk memantau diskusi
8)     Guru memberikan evaluasi berupa kuis untuk menilai keterlibatan dan kecakapan individual

c.      Teams Game Tournament (TGT)
      TGT merupakan metode pembelajaran dimana siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).

Sintaks atau cara kerja:
No
Langkah
Penjelasan
1
Penyajian kelas
Penyajian kelas dalam TGT tidak berbeda dengan pengajaran biasa atau klasikal. Namun, pengajaran hanya difokuskan pada materi yang sedang dibahas saja. Pada penyajian ini posisi siswa sudah berkelompok.
2
Belajar dalam kelompok
Siswa diberi kesempatan mempelajari materi yang akan digunakan dalam turnamen
3
Permainan
Setiap siswa mengambil sebuah kartu yang diberi nomor dan menjawab pertanyaaan sesuai dengan nomor yang didapat
4
Turnamen
Kegiatan pada turnamen adalah persaingan pada meja turnamen dari 3-4 siswa dari kelompok yang berbeda. Siswa diminta mengatur meja turnamen
5
Penghargaan
Pemberian penghargaan bagi kelompok yang memiliki poin tertinggi.

d.     Group Investigasi
      Gambaran umum metode pembelajaran Group Investigasi adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruan unit materi(pokok bahasan) yang akan diajarkan, kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka (Burns, et al., tanpa tahun).
Sintaks atau cara kerja:
1)     mengindentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok (para siswa menelaah sumber-sumber informasi, memilih topik, dan mengategorisasi saran-saran; parasiswa bergabung ke dalam kelompok didasarkan atas ketertarikan topik yang sama dan heterogen; guru membantu dan memfasilitasi dalam memperoleh informasi)
2)     merencanakan tugas-tugas belajar (direncanakan secara bersama-sama oleh para siswa dalam kelompoknya masing-masing, yang meliputi: apa yang kita selidiki; bagaimana kita melakukannya; siapa sebagai apa-pembagian kerja; untuktujuan apa topik ini diinvestigasi);
3)     melaksanakan investigasi (siswa mencari informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan; setiap anggota kelompok harus berkontribusi kepada usaha kelompok; para siswa bertukar pikiran, mendiskusikan, mengklarifikasi, dan mensintensis ide-ide);
4)     menyiapkan laporan akhir (anggota kelompok menetukan pesan-pesan esensial proyeknya; merencanakan apa yang akan dilaporkan dan bagaimana membuat presentasinya; membentuk panitia acara untuk mengoordinasikan rencana presentasi);
5)     mempresentasikan laporan akhir (presentasi dibuat untuk keseluruan kelas dalam berbagai macam bentuk; bagian-bagian presentasi harus secara aktif dapat melibatkan pendengar (kelompok lainnya); pendengar mengevaluasi kejelasan presentasi menurut kriteria yang telah ditentukan keseluruan kelas)
6)     evaluasi (para siswa berbagi mengenai balikan terhadap topik yang dikerjakan, kerja yang telah dilakukan, dan pengalaman- pengalaman afektifnya; guru dan siswa berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran; asesmen diarahkan untuk mengevaluasi pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis).

e.      Think Pair and Share
      Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman, juga Spencer Kagan bersama Jack Hassard (1996). Metode ini disebut sebagai “Tengoklah Tetanggamu” sedangkan ada juga yang menyebut dengan “Tengoklah Pasanganmu”. Pada aktivitas ini mendorong siswa untuk terbiasa berpikir mula-mula secara mandiri, kemudian bekerja secara berpasangan.

Sintaks atau cara kerja:
1)     Guru melakukan presentasi dan kemudian mengajukan pertanyaan.
2)     Mula-mula siswa diberi kesempatan berpikir secara mandiri
3)     Siswa kemudian berbagi (share) bertukar pikiran dengan pasangannya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
4)     Guru memandu pleno kecil diskusi, setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya
5)     Guru memberikan penguatan tentang prinsip-prinsip apa yang harus dibahas, menambahkan pengetahuan atau konsep yang luput dari perhatian siswa saat berdiskusi dengan pasangannya
6)     Guru memberikan kesimpulan dan refleksi

4.     Active Learning
      Pembelajaran aktif secara sederhana didefinisikan sebagai metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Variasi pokok metode pembelajaran aktif, menurut Michael Prince (2004) diwujudkan dalam pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah (PBL), pembelajaran berbasis proyek (PjBL)
      Secara garis besar klasifikasi pembelajaran aktif dapat terlihat dalam skema berikut:



Ada beberapa variasi jenis metode dalam pembelajaran aktif, variasi jenis metode adalah sebagai berikut.
a.      Quantum Teaching
Pengertian quantum teaching adalah metode pembelajaran aktif yang dikembangkan oleh Bobi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri. Asas quantum teaching menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre learning) yang menempatkan siswa sebagai subjek yang bertanggung jawab atas proses pembelajaran.
Rancangan pembelajaran metode quantum teaching biasa dikenal dengan akronim TANDUR. TANDUR adalah singkatan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Bobi DePorter, dkk menjelaskan lebih lanjut istilah TANDUR sebagai berikut.
Sintaks atau cara kerjanya:

T: TUMBUHKAN
Guru menumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BAgiKu (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar. Guru harus menumbuhkan minat siswa terlebih dahulu dengan menjelaskan manfaat-manfaat dari materi yang akan dipelajari.

A: ALAMI
Guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa.

N: NAMAI
Guru menyediakan kata kunci, konsep, metode, rumus, strategi, sebuah “masukan”

D: DEMONSTRASIKAN
Guru Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”. Guru harus memberikan kesempatan siswa menyampaikan apa yang diketahuinya dari materi yang diajarkan.

U: ULANGI
Tunjukkan cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini.”

R: RAYAKAN
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Guru dapat memberikan apresiasi berupa penghargaa kepada siswa.

b.     PAIKEM
      PAIKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Metode pembelajaran PAIKEM merupakan metode pembelajaran yang diharapkan dapat menyempurnakan metode-metode pembelajaran sebelumnya, yaitu menerapkan proses pembelajaran dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek.
Sintaks atau cara kerja:
1)     Guru mempersiapkan gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
2)     Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menganalisa gambar secara berkelompok 2-5 orang.
3)     Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya
4)     Guru menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang akan dicapai
5)     Guru membuat kesimpulan

c.      Debat
      Debat merupakan metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Sintaks atau cara kerjanya adalah:

1)     Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok peserta debat. Pertama kelompok pro dan kedua kelompok kontra.
2)     Guru member tugas untuk membaca materi yang akan menjadi bahan dalam debat.
3)     Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk menyampaikan pendapatnya. Kemudian ditanggapi oleh kelompok kontra. Begitu seterusnya

5.     Colaborative Learning
      Pembelajaran kolaboratif adalah suatu strategi pembelajaran dimana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerja sama dalam kelompok heterogen kecil pada tujuan yang sama. Para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif terdapat unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan. Kolaborasi akan efektif jika ruang kelas ditata sedemikian rupa sehingga tidak menggambarkan situasi klasikal, tetapi dapat berbentuk setengah lingkaran, huruf U, setengah lingkaran ganda, dan lain sebagainya.
      Ada beberapa variasi jenis metode dalam pembelajaran kolaboratif, variasi jenis metode adalah sebagai berikut.
a.      Peer Teaching
      Peer teaching merupakan metode belajar yang menuntut peserta didik mampu mengajar peserta didik lainnya. Sintaks atau cara kerjanya adalah:
1)     Guru membagi siswa menjadi kelompok kecil yang heterogen sebanyak sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai guru atau tutor.
2)     Tiap kelompok diberi tugas mempelajari satu bab dan dipanduk oleh tutor sebayanya.
3)     Setiap wakil kelompok menyampaikan materi sesuai tugasnya. Guru menjadi narasumber utama
4)     Guru member kesimpulan dan klarifikasi bila ada pemahaman yang perlu diluruskan.

b.     Sel Belajar
      Sel belajar dikembangkan oleh Marcel Goldschmid dari Swiss. Metode ini merupakan salah satu cara belajar efektif dengan kelompok berpasangan. Sintaks atau cara kerjanya adalah:
1)     Guru membagi siswa menjadi kelompok kecil yang beranggotakan dua siswa.
2)     Secara bergantian, pasangan siswa saling tanya jawab mengenai pertanyaan dari bahan ajar tertulis.
3)     Siswa membaca tugas dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang materi ajar yang dibacanya.
4)     Pada pertemuan kelas berikutnya, secara acak guru memasangkan siswa dua orang dua orang.
5)     Secara bergantian, salah satu siswa dalam pasangan mengajukan pertanyaan kepada pasangannya.
6)     Guru berkeliling kelas ke masing-masing kelompok memberikan umpan balik dan menjawab berbagai pertanyaan siswa apabila materinya kurang jelas.

c.      Predict-Observe-Explain
      Metode ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan siswa dalam melakukan prediksi secara individual. POE banyak dikembangkan dalam pendidikan sains. Metode ini akan berhasil apabila siswa diberi kesempatan untuk mengamati demonstrasi baik yang dilakukan guru maupun siswa sendiri.
Sintaks atau cara kerja:
1)     Siswa dibagi menjadi kelompok kecil yang beranggotakan 3-8 orang.
2)     Guru melakukan demonstrasi terkait dengan topik yang akan dipelajari. Upayakan agar kegiatan ini dapat membangkitkan minat siswa, sehingga mereka akan berupaya melakukan observasi dengan cermat.
3)     Guru menjelaskan kepada siswa apa yang sedang dilakukannya
Langkah 1: Melakukan prediksi (predict)
·       Guru meminta siswa secara individu untuk menuliskan prediksi mengenai apa yang akan terjadi.
·       Guru menanyakan kepada siswa apa yang mereka prediksikan.
Langkah 2: Melakukan observasi (observation)
·       Melakukan demonstrasi dengan waktu yang cukup
·       Guru meminta siswa menuliskan apa yang mereka amati
Langkah 3: Menjelaskan (explain)
·       Guru meminta siswa memperbaiki penjelasan hasil observasinya
·       Setelah siswa siap dengan laporan penjelasan, maka dilaksanakan diskusi kelompok.

d.     Peta Konsep (Mind Mapping)
      Peta konsep merupakan perangkat yang efektif dalam membantu pemahaman dan ingatan siswa mengenai bahan ajar/ materi. Apabila menggunakan metode pembelajaran mind mapping maka setiap guru harus sudah mengenal wilayah pengetahuan yang akan dibuat peta konsepnya. Sifat peta konsep yang tidak pernah final. Jadi, biasanya peta konsep yang baik harus melalui 1-3 kali revisi.

Sintaks atau cara kerja:
1)     Guru membentuk kelompok kolaboratif yang heterogen.
2)     Guru memberikan materi yang akan dibuat peta konsep dan akan dipelajari.
3)     Setiap siswa membuat peta konsep secara individu.
4)     Setiap siswa melakuan review terhadap peta konsep yang dibuatnya dalam kelompok yang sudah terbentuk sebelumnya.
5)     Melakukan diskusi kelas. Setiap kelompok mempresentasikan peta konsep yang telah direview di dalam kelompok.

Referensi:
Al-Tabany, Ibnu Badar dan Trianto. 2015. Mendesain Metode Pembelajaran Inovatif, Progresif,     dan Kontekstual. Jakarta: PT Kharisma Putra Pratama.
Taniredja, Tukuran; Faridli, Efi Miftah; dan Harmianto, Sri. 2015. Metode-metode Pembelajaran Inovatif dan Efektif. Bandung: ALFABETA.
A’la, Miftahul. 2011. Quantum Teaching. Yogyakarta: DIVA Press.
Saefuddin, Asis dan Berdiati, Ika. 2014. Pembelajaran Efektif.  Bandung: PT Remaja Rosdakarya
E Slavin, Robert. 2005. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media.
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Arifin, Zainal dan Setiyawan, Adi. 2012. Pengembangan Pembelajaran Aktif dengan ICT. Yogyakarta: PT Skripta Media Creative.
Prof. Dr. Warsono, M.S dan Drs. Hariyanto, M.S. 2013. Pembelajaran Aktif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Majid, Abdul, M.Pd. 2016. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kurniasih, Imas dan Sani, Berlin. 2016. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran. Jakarta: Kata Pena.
Drs. Daryanto dan Rahardjo, Drs. Mulyo. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media.
Huda, Miftahul, M.Pd. 2017. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuluskah Kita Berteman?

Hai hai hai, apa kabar? Ini Cuma iseng ngetik karena gak ada kerjaan. Yukk capcusss….. Berteman kok lihat harta, lihat rupa, lihat ada manfaatnya gak kalau berteman dengannya. Bagiku berteman bisa sama siapa saja. Kaya, miskin, pintar, biasa yang penting hatinya. Selalu ada di waktu sahabatnya butuh. Hal yang paling ku suka kalau berteman adalah bercanda hehe J Kalau belum kenal aku memang terlihat pendiam dan tidak suka ngoceh. Tapi kalau sudah kenal hal apapun aku omongin dari yang social media yang nyata yang penting yang gak penting yang kepo apalah itu. Kembali ke tema berteman. Sejak kecil alhamdulilah aku tipe orang yang gampang berteman. Kadang ketika awal masuk sekolah (dari SD ke SMP atau SMP ke SMA) teman yang kita kenal cuma sedikit. Mereka ada di berbagai sifat ada yang terlihat cerewet yang pemalu yang pendiam. Kadang supaya aku gampang mengenal iseng sok kenal gitu aku haha ya gimana lagi cara mau mengenal mereka. Paling suka berteman sama mereka yang gak pandang b...