Pagi ini ku dengar suara ayam
berkokok, pertanda hari sudah berganti. Saat itulah aku harus bangun bersiap ke
sekolah dan melakukan kebiasaanku mengendap-endap ke dapur untuk mengambil
sedikit makanan yang kemudian aku berikan pada Nenek Minah yang sudah tua dan
sakit-sakitan. Ia tinggal di depan rumahku bersama anaknya yang janda bernama
Ina. Tapi, malang sekali nasib nenek itu, ia tak pernah dipedulikan oleh
anaknya, bahkan untuk hal-hal kecil seperti mengambilkan makanan untukny,a
janda yang belum mempunyai anak itu tidak mau. Tampak dari perbuatannya, Ina
sangat benci pada ibunya, karena dari kecil mereka hidup miskin.
Hampir setiap hari ku lihat Ina
pergi bersama lelaki yang berganti-ganti. Aku berjalan keluar rumah dengan menyembunyikan
rantang dibalik tasku dengan sangat hati-hati karena ibuku tidak suka dengan
perbuatanku ini. Menurutnya aku terlalu sering memberinya makanan sehingga
seperti mencampuri urusan keluarga Nenek Minah. Ketika aku hendak menutup pintu
rumah, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Aku yakin itu tangan ibuku.
Aku berpikir aku akan ketahuan membawa rantang makanan untuk Nek Minah.
“May, apa yang kamu bawa di balik
tasmu? Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu.” Tanya ibuku dengan
sedikit kecurigaan.
“Ini hanya buku Bu, tasku sudah
tidak muat lagi.” Jawabku spontan. Aku bisa lega dengan jawabanku, ku lihat
dari sorot matanya ia percaya denganku.
Setelah aku berpamitan, segera aku keluar menuju depan rumah. Ku dengar suara
percekcokan antara Ina dan Nek Minah. Diikuti dengan suara piring pecah.
Teriakan Nenek mulai terdengar ia melarang Ina pergi dengan lelaki yang bukan
siapa-siapanya. Dandanan yang berlebihan dan berpakaian minim disertai suara
sepatunya yang seperti suara tapak kuda terdengar saat ia berjalan mendekati
lelaki yang tak pernah ku lihat itu. Ku dekati nenek yang hendak keluar
mengikuti anaknya.
“Inaa…Inaa…Inaa.” Ucap lirih Nek
Minah
“Memang hidup kita ini serba kurang,
tetapi rasa sayang ibumu ini begitu besar Ina. Mungkin kamu akan merasa
kehilangan jika ibu sudah tiada nanti.” Ucap Nenek Minah dengan mata
berkaca-kaca.
Meski begitu, tetapi Ina tetap acuh
tak acuh terhadap ibu yang sudah melahirkannya. Seketika, nenek meneteskan air
mata. Ia tak tahu mengapa Ina sangat membencinya. Ina tak pernah mau berbicara
padanya. Tanpa sadar aku hanya terdiam menyaksikan peristiwa itu. Ku lirik jam
tangan, sudah menunjukan pukul 06.45 WIB. Segera ku antar Nek Minah ke kamar
sembari menyiapkan makanan untuknya. Aku berpamitan dengan perasaan tidak enak
aku meninggalkannya.
Pukul 13.00 WIB aku pulang sekolah,
ku lihat rumahnya ramai sekali. Perlahan ku dekati rumah nenek yang sudah ku
anggap nenek sendiri itu. Seketika mataku meneteskan air mata ketika tahu Nenek
Minah sudah tiada. Segera aku aku mendekati jenazahnya dan ku lihat Ina
menangis dan tidak percaya bahwa ibunya sudah meninggal. Mungkin saat itulah
Ina menyadari kesalahannya.
Karya: Wiwid & Hanif
Komentar
Posting Komentar