Langsung ke konten utama

Cerpen: Kesadaran yang Terlambat

 
           Pagi ini ku dengar suara ayam berkokok, pertanda hari sudah berganti. Saat itulah aku harus bangun bersiap ke sekolah dan melakukan kebiasaanku mengendap-endap ke dapur untuk mengambil sedikit makanan yang kemudian aku berikan pada Nenek Minah yang sudah tua dan sakit-sakitan. Ia tinggal di depan rumahku bersama anaknya yang janda bernama Ina. Tapi, malang sekali nasib nenek itu, ia tak pernah dipedulikan oleh anaknya, bahkan untuk hal-hal kecil seperti mengambilkan makanan untukny,a janda yang belum mempunyai anak itu tidak mau. Tampak dari perbuatannya, Ina sangat benci pada ibunya, karena dari kecil mereka hidup miskin.
            Hampir setiap hari ku lihat Ina pergi bersama lelaki yang berganti-ganti. Aku berjalan keluar rumah dengan menyembunyikan rantang dibalik tasku dengan sangat hati-hati karena ibuku tidak suka dengan perbuatanku ini. Menurutnya aku terlalu sering memberinya makanan sehingga seperti mencampuri urusan keluarga Nenek Minah. Ketika aku hendak menutup pintu rumah, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Aku yakin itu tangan ibuku. Aku berpikir aku akan ketahuan membawa rantang makanan untuk Nek Minah.
            “May, apa yang kamu bawa di balik tasmu? Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu.” Tanya ibuku dengan sedikit kecurigaan.
            “Ini hanya buku Bu, tasku sudah tidak muat lagi.” Jawabku spontan. Aku bisa lega dengan jawabanku, ku lihat dari sorot matanya ia percaya denganku.
            Setelah aku berpamitan, segera aku  keluar menuju depan rumah. Ku dengar suara percekcokan antara Ina dan Nek Minah. Diikuti dengan suara piring pecah. Teriakan Nenek mulai terdengar ia melarang Ina pergi dengan lelaki yang bukan siapa-siapanya. Dandanan yang berlebihan dan berpakaian minim disertai suara sepatunya yang seperti suara tapak kuda terdengar saat ia berjalan mendekati lelaki yang tak pernah ku lihat itu. Ku dekati nenek yang hendak keluar mengikuti anaknya.
            “Inaa…Inaa…Inaa.” Ucap lirih Nek Minah
            “Memang hidup kita ini serba kurang, tetapi rasa sayang ibumu ini begitu besar Ina. Mungkin kamu akan merasa kehilangan jika ibu sudah tiada nanti.” Ucap Nenek Minah dengan mata berkaca-kaca.
            Meski begitu, tetapi Ina tetap acuh tak acuh terhadap ibu yang sudah melahirkannya. Seketika, nenek meneteskan air mata. Ia tak tahu mengapa Ina sangat membencinya. Ina tak pernah mau berbicara padanya. Tanpa sadar aku hanya terdiam menyaksikan peristiwa itu. Ku lirik jam tangan, sudah menunjukan pukul 06.45 WIB. Segera ku antar Nek Minah ke kamar sembari menyiapkan makanan untuknya. Aku berpamitan dengan perasaan tidak enak aku meninggalkannya.
            Pukul 13.00 WIB aku pulang sekolah, ku lihat rumahnya ramai sekali. Perlahan ku dekati rumah nenek yang sudah ku anggap nenek sendiri itu. Seketika mataku meneteskan air mata ketika tahu Nenek Minah sudah tiada. Segera aku aku mendekati jenazahnya dan ku lihat Ina menangis dan tidak percaya bahwa ibunya sudah meninggal. Mungkin saat itulah Ina menyadari kesalahannya.


Karya: Wiwid & Hanif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuluskah Kita Berteman?

Hai hai hai, apa kabar? Ini Cuma iseng ngetik karena gak ada kerjaan. Yukk capcusss….. Berteman kok lihat harta, lihat rupa, lihat ada manfaatnya gak kalau berteman dengannya. Bagiku berteman bisa sama siapa saja. Kaya, miskin, pintar, biasa yang penting hatinya. Selalu ada di waktu sahabatnya butuh. Hal yang paling ku suka kalau berteman adalah bercanda hehe J Kalau belum kenal aku memang terlihat pendiam dan tidak suka ngoceh. Tapi kalau sudah kenal hal apapun aku omongin dari yang social media yang nyata yang penting yang gak penting yang kepo apalah itu. Kembali ke tema berteman. Sejak kecil alhamdulilah aku tipe orang yang gampang berteman. Kadang ketika awal masuk sekolah (dari SD ke SMP atau SMP ke SMA) teman yang kita kenal cuma sedikit. Mereka ada di berbagai sifat ada yang terlihat cerewet yang pemalu yang pendiam. Kadang supaya aku gampang mengenal iseng sok kenal gitu aku haha ya gimana lagi cara mau mengenal mereka. Paling suka berteman sama mereka yang gak pandang b...